5. Cerpen. Kamu Suka Bermain?
“Ren mabar yuk, biasa..”
Si pemilik nama menoleh. Dia adalah Rendi, anak kelas 4/3.
“Ok, tapi gue gak ada kuota..?” kata Rendi.
“Gak masalah. Di rumah gue ya, kan ada WIFI. Beres!” ucapku sambil mengedipkan sebelah mata.
Jangan aneh, aku dari keluarga kaya. Ayahku selain ketua cabang sebuah partai, ia juga guru di perguruan tinggi, alias dosen. Aku sebagai anak satu-satunya, tentu sangat ia sayang. Apalagi aku anak yang sudah lama ia harapkan setelah ibu dan ayah menikah 5 tahun dan belum mendapat keturunan, maka aku yang akhirnya terlahir menjadi kesayangan.
Mereka tentu sangat menyayangiku, terbukti dari semua permintaanku yang selalu mereka kabulkan. Dan pemasangan WIFI rumah ini juga dulu aku yang minta waktu baru berusia 6 tahun.
...
Kelas 4/1 kini sedang riuh, guru muda di kursinya segera angkat suara demi mengondisikan kelas.
Ia, Bu Reina pertama-tama bangkit dan berdiri lalu berjalan mengelilingi kelas dan menggemakan aturan perolehan dan pengurangan poin.
“Ah, bosan. Bu Reina ini apa gak punya ide lain? Masa pake cara ini mulu? Gak mempan, yang ada aku ketiduran.. hoaam... Oh iya, ini udah jam 11, bentar lagi istirahat nih.
Ingetin si Rendi ah, dia ni anaknya lumayan cupu. Kalo gak diingetin yang ada dia malah kelupaan dan lanjut ke kelas habis istirahat.”
Gio memasukkan tangan kanannya ke kolong meja, dan secara diam-diam mengetikkan sesuatu di ponselnya.
...
Rendi kini tengah mencatat tulisan yang tadi ditulis Pak Rahim sebelum pergi dan memberikan tugas.
Rendi sendiri tak tahu guru tersebut akan kemana dan melakukan apa, yang pasti dia pergi dan memberikan tugas ke mereka.
Meja sekitarnya sangat berisik, ditinggal guru malah menjadikan kelas sunyi jadi seakan berpesta dengan segala macam pembahasan abstrak khas anak SD.
Malah ada yang main kartu, bola bekel, bernyanyi, bahkan ada yang bermain akting seakan sedang syuting sinetron roman yang menyedihkan dengan akting menangis sampai ingus berantakan.
Disaat riuh seperti itu, hanya beberapa anak yang menulis dengan baik, salah satunya tentu adalah Rendi.
Dia dengan kepala menunduk lalu menengadah berulang kali untuk menulis hingga terlihat seperti ayam yang mematuk beras. Sangat teratur.
Drrrt-drrt-drtt!
Bunyi getaran yang lumayan tinggi ini membuat sebagian mata penghuni kelas menoleh padanya, tapi sejenak kemudian ketidakpedulian menyelamatkan Rendi dari interogasi.
Ia segera bergumam menyalahkan bunyi notifikasi yang membuatnya terjebak dalam atmosfer kekakuan barusan.
Rendi membuka bagian dalam tasnya dan mengambil ponselnya secara sembunyi-sembunyi.
Tentu ponsel dilarang dibawa ke sekolah, namun ia sendiri sudah berjanji dengan Gio kemarin bahwa mereka akan membawa ponsel hari ini untuk mabar di jam istirahat.
Kebetulan tadi sebelum masuk kelas Gio mengajak Rendi lanjut mabar di istirahat kedua. Tentu Rendi setuju karena ia sendiri suka bermain permainan moba ini.
...
Gio keluar kelas lebih dulu, tepat saat bel istirahat kedua berbunyi. Kini ia sedang menunggu Rendi di luar tembok sekolah, di bawah pohon kelapa.
Melihat Rendi muncul Gio mengirim pesan suara yang menyatakan lokasinya. Rendi menerima notifikasi lalu segera berjalan ke arah dimana Gio berada.
Mereka bertos ria lalu berjalan bersama ke rumah Gio yang jaraknya cukup ditempuh 2 menit berjalan kaki.
Tas? Tentu mereka tidak membawanya, akan sangat kelihatan akan melewatkan kelas jika mereka keluar kelas dengan tas.
Tentu tas mereka juga tidak dibiarkan saja, takutnya dijahili mereka tentu menyembunyikan tas mereka di tempat aman.
Mereka berjalan sambil mengendap-endap biar tidak ketahuan tetangga dan nantinya jadi berita faktual yang sampai ke telinga orang tua Gio.
Gio sendiri punya kunci rumah, jadi meski orang tua dan pekerja sedang tidak ada, dia bisa masuk keluar rumah seenaknya.
...
Double kill..
Triple kill..
“Lu makin jago aja sih Gi, kasih tahu dong caranya?” Rendi penasaran.
“Yah, gue sih biasa aja sih mainnya.. pakai perasaan aja.”
Gio dan Rendi sangat asik bermain sampai tak menyadari adanya bayangan hitam di luar jendela kamar Gio.
Trang!
Rendi terkaget hingga berdiri dari duduknya dari kasur Gio.
“Gi.. itu apaan? Kok kayak ada benda jatuh?”
“Ngapa, lo takut? Ah, paling pembantu gak sengaja jatuhin panci. Udahlah tenang aja, masa gitu aja takut!
Lanjut, lo hampir afk loh! Cepetan kita mau menang nih!”
Rendi berhasil ditenangkan oleh Gio, meski tatapan dan gesturnya masih terkesan kaku dan gelisah. Ia kembali bermain.
Jlep!
“Loh, kok hp gue mati? Perasaan barusan batrenya masih banyak.” Gio bergumam dan bangkit mencari casan.
“Sama, Hp gue juga mati Gi, aneh..” kok bisa barengan, lanjutnya dalam hati.
Gio yang sibuk memutar colokan casan tak mendengar perkataan Rendi.
“Kok gak masuk, padahal listrik normal..
-Jlep- (lagi)
Lah, gelap.
Ren, lu dimana? Apa ortu gue lupa isi token?”
“Ren? Lo kok gak nyahut?”
Gio seakan buta, kegelapan menelannya hingga ia sendiri tak bisa melihat dan mendengar suara apapun. Setiap suara seakan telah ditelan oleh kegelapan. Lalu ia bahkan tak bisa mendengar suaranya sendiri..
‘Apa aku tiba-tiba bisu? Kenapa aku tak bisa mendengar suaraku sendiri? Atau aku jadi tuli?
Gelap, ini dimana? Bukankah aku di kamarku sendiri? Kenapa aku tak bisa menyentuh apapun? Mana kasurku? Mana Rendi?’
*Kamu suka bermain?*
...
Gio tiba-tiba mendengar suara, terdengar seperti suara sintesis robot lalu semakin lama bergema dan menjadi suara anak gadis seperti suara karakter dalam tutorial permainan moba yang tadi ia mainkan.
“Lo siapa? Jangan main-main sama gue!”
Lalu efek suara dan penglihatannya terbuka. Ia melihat grafik permainan versi raksasa tepat di hadapannya.
“Tutorial? Ini apa yang..”
Gio heran dengan kejadian di depannya, ia seperti memasuki mode ban pick di permainan. Kini ia sedang melihat pemilihan hero dan larangan sebagai penonton. Lalu sesaat kemudian penglihatannya kembali menggelap.
“A..!”
Mata Gio kembali terbuka, kini ia berada di basecamp. Lalu ia merasa seperti sedang berjalan namun ia tak bisa menentukan ke arah mana ia akan melangkah. Ia merasa sedang dikendalikan.
Ia hanya berjalan lurus lalu rasa sakit menusuk perutnya lalu pandangannya kembali gelap, lalu terbuka lagi.
*YOU HAVE BEEN SLAIN*
Kini ia berjalan memutari area tengah ke samping kanan dan kiri lalu kembali. Saat akan mendekati Monster ia terhenti sejenak dengan pusing, lalu pandangannya kembali gelap.
*DOUBLE KILL-YOU HAVE BEEN SLAIN*
Hal ini terus terjadi hingga Gio tak bisa menghitung berapa kali. Ia kini ketakutan, dalam benak ia bertanya-tanya kenapa ini terjadi? Apa yang terjadi?
“Keluarkan aku dari sini.. hiks. Aku.. YOU HAVE BEEN SLAIN
Aku gak akan bermain lagi, aku janji hiks.. YOU HAVE BEEN SLAIN
Aku takut! LEGENDARY, YOU HAVE BEEN SLAIN
Ayah! Ibu! Tolong! Tolong keluarkan aku dari sini!”
...
Rendi segera melepaskan casan dari soket dan memanggil Gio yang kini tak sadarkan diri. Ia sungguh khawatir sesuatu mungkin terjadi pada Gio temannya.
“Gi, bangun Gi! Lo kenapa?”
Rendi lalu menyalakan hpnya yang tadi mati mendadak. Hpnya tidak bermasalah hanya sudah agak rusak dan terkadang mematikan daya tiba-tiba.
Ia langsung mencari nomor kontak orang tua Gio, tepat saat menemukan nomor ayah Gio segeralah Rendi menekan tombol panggil.
“Om, Gio pingsan! Tolong!..
Kami di kamar Gio.”
Segera setelah 15 menit panggilan terputus, terdengar bunyi mobil yang mendekat dan berhenti dari luar.
Lalu langkah kaki riuh mendekati posisinya saat ini.
Ia segera membuka kamar dan mempersilakan Ayah Gio dan beberapa orang berjas putih masuk.
Lalu ayah Gio mendekati Rendi dan membawanya keluar untuk menunggu di ruang lain.
Ayah Gio menanyakan asal mula pingsannya Gio, Rendi pun menceritakan semuanya juga opininya yang kemungkinan Gio kesetrum karena tepat sebelum pingsan, Gio tengah memegang casan, mengecas hpnya.
“Terima kasih ya kamu langsung hubungi Om. Tapi kamu emangnya gak sekolah?Ini kn masih jam terakhir?”
Rendi tertohok akan pertanyaan Om Galang. Tapi, meski malu ia tetap menceritakan ke-bolosan-nya dengan merasa bersalah.
...
Tiga jam telah berlalu, pendeteksi detak jantung kini menunjukkan garis normal. Para dokter merasa bersyukur dan sebagian segera meresepkan obat dan perawatan harian Gio, sebagian lagi segera keluar memberitahu Pak Galang.
Bulu mata mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka menampilkan netra coklat muda ke dunia. Gio sadar.
Air mata jatuh, Gio terisak.
“A.. aku janji gak akan main lagi.. hiks hiks..”
Pak Galang segera masuk mendekati Gio, “Nak, sadarlah ini ayah. Kamu udah gak papa Gio, ayah disini.”
“Ayah, Gio mimpi jadi karakter game dan lagi main, tapi Gio gak bisa kendalikan diri. Gio cape mati berkali-kali, rasanya sakit. Bisa gila aku Yah.. Untungnya Cuma mimpi, Gio takut Ayah, hiks- hiks...”
Ayah Gio memeluknya semakin sayang. Tak menyangka dia bahwa anak satu-satunya mengalami mimpi menyeramkan itu. Namun ini mungkin saatnya menasehati anaknya agar tidak kelewatan dalam permainan.
“Saat kamu bermain sebelumnya pernah mikir gak kalau karakter itu misalnya adalah manusia? Terus kamu mainnya gak berhenti-henti habis satu lanjut terus sampai berjam-jam.” Kata Ayah. Gio menggeleng.
“Gio sayang, sekarang kamu udah tahu kan rasanya jadi karakter game yang selalu dimainkan? Cape kan? Jadi jangan berlebih-lebihan sampai lupa waktu, mereka juga akan lelah kalau kamu mainnya kayak gitu terus.” Gio mengangguk.
“Di usia kamu ini, kamu harus biasakan atur waktu dengan baik, biar besarnya nanti kamu gak menyesal. Ayah gak larang kamu main game kok sayang, ayah cuma ingetin kamu biar gak terlalu berlebihan, hp kamu sama tubuh kamu perlu istirahat sayang.” Ucap Pak Galang.
Gio pun segera memeluk ayahnya, ia meminta maaf dan berjanji akan sekolah dengan baik dan tidak akan bermain tanpa mengatur waktu.
...
Ayah Gio keluar setelah Gio kembali tertidur. Kini ia menghubungi penjaga komplek setempat untuk menanyakan detail tentang kemungkinan penyebab anaknya yang kesetrum hingga pingsan. Syukurlah dia datang tepat waktu meski hampir terlambat.
Dari penjelasan Rendi diketahui bahwa sebelum itu terjadi ada suara benda jatuh seperti panci, juga Rendi berkata bahwa samar-samar ia merasakan ada orang yang lewat setelah mereka sebelum Rendi dan Gio masuk rumah.
Namun Rendi tak mengatakan apapun mengenai ini pada Gio, karena saat itu ia sendiri menyangkal dugaannya dengan tak percaya.
Pak Galang segera menyampaikan semua kemungkinan yang nantinya kasus akan diteruskan oleh polisi untuk ditindaklanjuti.
...
Esoknya Gio dan Rendi sekolah seperti biasa dengan Pak Galang yang mengantar mereka berdua. Ini dilakukannya karena panggilan dari kepolisian tadi.
“Apa? Kemungkinan percobaan pencurian? Baik, saya akan tingkatkan keamanan sekitar rumah saya. Terima kasih atas bantuannya Pak Polisi.”
Akhirnya kasus selesai dengan tertangkapnya pelaku yang diduga sedang melakukan aksi pencurian di rumah kosong di sudut komplek jauh dari perumahan tersebut, diketahui rumah tersebut kosong dan lama tak berpenghuni. Pemilik merupakan warga negara asing yang datang hanya untuk berlibur.
Dengan begini kasus selesai dan Gio bersama Rendi mulai belajar dengan lebih serius sambil terkadang bermain bersama. Meski kini Gio kapok dengan permainan Moba dan beralih ke permainan RPG.
Komentar
Posting Komentar